KETUA UMUM LAMAHU MENGHADIRI 40 HARI WAFATNYA ALMARHUM MOCHTAR NIODE
JAKARTA — Ketua Umum Lembaga Adat dan Budaya Gorontalo (LAMAHU), Fadel Muhammad, menghadiri acara peringatan 40 hari wafatnya Alm. Mochtar Niode. Kehadiran Fadel Muhammad menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka cita kepada keluarga yang ditinggalkan.
Peringatan 40 hari tersebut menjadi momentum bagi keluarga, kerabat, serta para tokoh yang mengenal almarhum untuk kembali mengenang sosok Mochtar Niode dan mendoakan kepergiannya. Dalam suasana penuh khidmat, para undangan turut memanjatkan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Sebagai Ketua Umum LAMAHU, kehadiran Fadel Muhammad juga mencerminkan kuatnya hubungan kekeluargaan dan kebersamaan masyarakat Gorontalo, khususnya dalam memberikan dukungan moral kepada keluarga yang sedang berduka.
Fadel Muhammad bersama para tamu yang hadir turut mengenang berbagai kebaikan dan kontribusi yang telah diberikan Mochtar Niode semasa hidupnya. Sosok almarhum dikenang sebagai bagian dari keluarga besar dan lingkungan sosial yang meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang pernah mengenalnya.
Momentum 40 hari wafatnya Mochtar Niode sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tali silaturahmi dan nilai-nilai kekeluargaan. Kehadiran para tokoh dan kerabat dalam acara tersebut menunjukkan bahwa rasa kehilangan tidak hanya dirasakan oleh keluarga inti, tetapi juga oleh masyarakat dan orang-orang terdekat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup almarhum.
Dalam kesempatan tersebut, doa dan penghormatan terus dipanjatkan untuk almarhum. Keluarga berharap segala amal ibadah dan kebaikan yang telah dilakukan Mochtar Niode semasa hidup mendapat balasan terbaik dari Allah SWT.
“Semoga Alm. Mochtar Niode mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa dan kekhilafannya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan,” demikian doa yang disampaikan dalam suasana peringatan 40 hari tersebut.
Kehadiran Ketua Umum LAMAHU Fadel Muhammad dalam peringatan tersebut menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan, sekaligus memperkuat semangat persaudaraan di antara masyarakat Gorontalo dalam menghadapi suasana duka.